Thursday, July 14, 2011

Review: The Last Emperor


The Last EmperorThe Last Emperor by Paul Kramer
My rating: 4 of 5 stars







Paperback, 453 pages
Published March 2010 by Serambi
ISBN13: 9789790241909
edition language: Indonesian


Sinopsis buku:


AUTOBIOGRAFI HENRY PU YI YANG MENGILHAMI FILM PERAIH 9 PIALA OSCAR

Direvisi Oleh Paul Kramer
Sepertinya tidak ada yang lebih berliku dan tragis dibandingkan dengan kisah ini. Menyimak kehidupan Pu Yi berarti juga menyelami periode penting sebuah bangsa besar: masa per-alihan China dari negara kerajaan ke republik?yang sering disama-artikan dengan ?perubahan dari tradisional menjadi modern?. Bagi sebagian orang yang menganggap sistem politik modern lebih adil, peristiwa ini merupakan pilihan terbaik. Namun, bagaimana jika dilihat dari sudut pandang sang Kaisar?

Buku ini berdasarkan penuturan Pu Yi sendiri. Dia menceritakan perjalanan hidupnya yang luar biasa: penobatannya sebagai Kaisar pada usia dua tahun, hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, korupsi yang menggerogoti kerajaan, menjadi ?boneka? penguasa Jepang, mendekam di penjara sebagai tawanan perang, dan menjadi tukang kebun di mana hanya sedikit orang yang mengenalnya sebagai ?Putra Langit?.

Dengan sangat terbuka dan sedemikian banyaknya informasi teperinci yang gamblang, Pu Yi menulis kisah ini di tempat penahanannya. Tak diragukan lagi, buku ini adalah catatan yang unik, memikat, dan penting tentang sejarah China yang paling kacau dan dramatis?dan tentang seorang manusia yang menjadi saksi atas semuanya.


Review buku:


Henry Pu Yi. Lahir tanggal 7 Feb 1906 dan diangkat menjadi kaisar pada tanggal 13 Nov 1908. Tanggal 12 Feb 1912 janda permaisuri Lung Yu mengumumkan penurunan tahta Pu Yi.

Pu Yi adalah kaisar yang berkuasa hanya selama 3 tahun tanpa adanya kesadaran yang nyata akan situasi politik . Setelah kedaulatan pemerintahan China berganti menjadi Republik, Pu Yi masih diperbolehkan melanjutkan kehidupan di istana yang disebut dengan Kota Terlarang dan mempertahankan tradisi kerajaan. Hal ini tertuang dalam “perjanjian kelakuan baik”.

Di abad 20, sementara yang lainnya bisa menikmati gaya hidup modern, Pu Yi terus menghirup udara abad ke-19 dan sebelumnya. Selama masa kecilnya, dia masih diperlakukan seperti layaknya seorang raja. Dia terbiasa dipanggil Yang Mulia, Baginda dan terbiasa pula menghadapi orang berlutut dihadapannya, tak peduli orang itu lebih tua atau lebih muda darinya. Hal ini menjadikan dia bersikap berlebihan dan egois.


Ketika dia akan makan, Pu Yi hanya tinggal mengatakan “sediakan makanan pilihan”. Maka  kasim di dekatnya akan mengulangi kalimat tersebut, para pengawal yang menjaga istana yang dia tempati akan meneruskannya dan mereka yang berada di luar akan mengulanginya dan seterusnya sampai akhirnya kata itu mencapai ruangan makanan pilihan kerajaan di jalan barat kota terlarang. Bayangkan jika Pu Yi mengatakan kalimat panjang dengan kasim yang mempunyai daya ingat seperti *uhuk* aki-aki, jangan-jangan nasib kalimat itu seperti nasib kalimat pada kopdar GRI ke-4 kemarin.

Pu Yi hanya diijinkan berjalan-jalan di kota terlarang, setiap dia berjalan-jalan rombongan kasim akan mengikutinya. Bagai sebuah parade. Disaat dia ingin berkunjung ke tempat di luar kota terlarang, dia tidak hanya membutuhkan 10 mobil untuk menampung semua rombongan, tetapi juga harus meminta polisi republik untuk menempatkan penjaga untuknya dan menjaga jalanan untuk melindunginya. Betapa repotnya.

Johnston tutor Pu Yi berkebangsaan Skotlandia mempunyai peran penting dalam pertumbuhan Pu Yi. Johnston telah memperlihatkan Pu Yi peradapan barat dan merangsang rasa penasaran jiwa mudanya. Pu Yi yang mulai beranjak remaja merasa dunianya sangat sempit. Dia ingin merasakan kebebasan hingga dia memiliki rencana untuk kabur dari istana yang sayangnya rencana ini gagal total.

Setelah Jepang kalah, Pu Yi ditahan oleh tentara Soviet selama 5 tahun hingga akhirnya dia dikembalikan kepada pihak China dan dipenjara selama 10 tahun kemudian di sana.

Perjalanan Pu Yi yang tidak mudah dari mulai dielu-elukan hingga dia menjadi bual-bualan teman-teman sell nya ketika dalam penjara.

Membaca buku ini membuat saya merasa marah, sedih, kasihan, kagum dan senang secara bersamaan.
Marah karena sikap Pu Yi sebagai kaisar yang semena-mena dan kejam
Sedih karena sikap keluarga Pu Yi yang berbalik memusuhinya dan menjauhinya
Kasihan karena Pu Yi yang sedari kecil tak pernah melakukan pekerjaan sepele hingga membuat dia sulit beradaptasi ketika di penjara yang semuanya harus dikerjakan sendiri.
Kagum karena akhirnya Pu Yi mengakui semua kesalahannya
Senang karena pemberian grasi khusus dan dia dibebaskan dari penjara dan menjalani hidup seperti rakyat biasa.

Sekaligus, buku ini menambah pengetahuan saya akan sejarah China.

Btw, buku ini termasuk buku “mutu” kah?
Ah, masa bodoh buku ini bermutu atau tidak, yang penting saya dapat menikmati ketika membacanya.


View all my reviews

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...